Rabu, 18 April 2012

Akademi Gajah

Sementara membaca novel Tere Liye "Ayahku Bukan Pembohong", iseng saya mengetikkan "Akademi Gajah" di search engine Google, hehehe.. ternyata emang g' ada. Saya tertarik dengan sekolah ini, terlepas dari fiksi atau non fiksi. sekolah ini menggambarkan sekolah yang penuh dengan petualangan, seklolah ini mendidik siswanya menjadi bertanggung jawab dengan apa yang dipilihnya. Buktinya "Akademi gajah" tidak memaksa siswanya mengambil mata pelajaran paket seperti sekolah-sekolah pada umumnya di Indonesia. Minimal mereka mengambil 8 mata pelajaran dengan 4 mata pelajaran yang wajib, sisanya terserah. Mereka juga boleh mengambil lebih dari 8 mata pelajaran selagi mereka bisa.

Di "Akademi Gajah" ini ada kelas memanah, kelas yang di ambil oleh Dam dan Retro, yang sampai 1 bulan sebelum ujian akhir kelulusan tidak terpilih sebagai Tim Elit Pemanah sekolahnya. Sehingga demi rasa penasaran yang menggebu-gebu, mereka rela berbohong kepada penjaga pintu sekolah bahwa mereka mendapatkan surat izin ikut berburu babi di hutan perkampungan dekat sekolah mereka. Betul-betul pengalaman yang tak terlupakan bagi kedua anak ini yang kalau latihan memanah tidak pernah mengenai sasaran dengan tepat.


Ada pula kelas menggambar, yang dipilih oleh Dam. Karena di sekolah mereka kamera dan semacamnya tidak diperbolehkan, maka demi memperlihatkan betapa indahnya sekolah Dam kepada ibunya, ia dengan bakat terpendamnya mulai membuat sketsa-sketsa setiap pojok sekolahnya yang di gambarnya dari semua sudut pandang, dengan begitu ibunya “sang artis tercantik di zamannya” bisa membayangkan betapa mengagumkannya sekolah “Akademi Gajah”. sebenarnya, walaupun pada akhirnya Dam mulai tidak mempercayai cerita-cerita Ayahya (cerita tentang si Kapten El Capitano, Lembah Bukharah dan Suku Penguasa Angin). secara tidak langsung kisah-kisah ini membuat daya imajinasi Dam berkembang tiada terkira yang kelak mengantarkan ia menjadi seorang Arsitek dengan gambar-gambar/sketsa yang mengagumkan. Cerita-cerita ayahnya seakan-akan mengendap di alam bawah sadarnya, dan menjadi sumber inspirasi yang tidak terbatas.  Ia tumbuh menjadi anak yang baik, jujur, suka menolong, sportif dan punya hati yang lurus. 

Ayah Dam berhasil mendidiknya dengan cara berbeda, cara yang terbilang kuno di era sekarang ini. Tapi,  memberikan dampak yang sangat luar biasa.  Dengan menceritakan berbagai kisah-kisah menariknya di kala beliau masih muda, Dam berhasil mengambil hikmah/pelajaran dari kisah-kisah yang didengarnya. Ayahnya tidak mendidiknya dengan cara kekerasan atau cara disiplin yang berlebihan, bukan dengan cara membanding-bandingkan kelebihan seseorang dengan anaknya (cara yang dilakukan oleh ayah Jarjit, sehingga berakibat Jarjit sangat membenci Dam) yang membuat anak-anak zaman sekarang seolah-olah sudah kehilangan jati diri. Belum lagi, di zaman sekarang anak-anak di suguhi dengan tontonan-tontonan kurang mendidik di TV 24 jam, berbagai macam game online, game di PS, dll. Semuanya membuat daya imajinasi anak-anak menjadi berkurang, tidak kreatif.

Akademi Gajah, sekolah yang mendidik siswanya dengan pemahaman bahwa pelajaran-pelajaran di sekolah tidak melulu mesti di nilai dengan angka-angka di atas kertas. Nilai-nilai di atas kertas itu tidak penting, tapi yang terpenting adalah bagaimana proses perjalanan mendapatkan pendidikan, memaknai setiap langkah perjalanan mendapatkan pendidikan/pengetahuan di kelas maupun di luar kelas, dimana Dam dinyatakan lulus dengan predikat baik walaupun ia tidak sempat mengikuti ujian akhir kelulusan. 

Ah.. Seandainya sekolah-sekolah di Indonesia seperti di Akademi Gajah, kelulusan siswa tidak hanya dinilai dari Ujian Nasional, tapi merupakan semua rangkaian pendidikan selama tiga tahun atau 6 tahun siswa selama di sekolah. Jika hal ini terjadi, maka segala bentuk kecurangan, kebohongan, ketidakjujuran demi meluluskan siswa-siswanya tidak lagi mondar-mandir di berita-berita TV dan surat kabar. Berita yang sangat klasik sebenarnya dari tahun ke tahun. Seolah-olah semua yang terkait menutup mata dan telinga akan kejadian ini. Tidak ada gunanya, segala kertas-kertas pernyataan “Bahwa saya akan mengawas/mengerjakan ujian dengan JUJUR”. Jika system pendidikan kita masih seperti sekarang ini. Tidak ada gunanya pengawas ruangan, polisi, pengawas independen, jika semuanya bekerja sama melakukan kecurangan. Itulah mungkin penyebab, sampai sekarang tindakan korupsi masih sangat, sangat, sangat susah diberantas. Di berantas satu, eh tumbuh seribu. Dimana letak pendidikan yang sebenarnya??

Saya beruntung bisa bersekolah di zaman yang penentuan kelulusan berdasarkan EBTA/EBTANAS, semua siswa lulus. Saya beruntung bisa sekolah di Sekolah kejuruan “SEKOLAH MENENGAH ANALIS KIMIA (SMAK) Makassar”, di sana saya tak perlu mengikuti UAN untuk kelulusan, tapi cukup ujian akhir di Sekolah kelas IV dan ujian Praktek Lapangan di Industri masing-masing tempat kita PKL. Dan semua siswa lulus dengan keterampilan dan pengetahuan yang memadai untuk kehidupan selanjutnya.


16 komentar:

  1. saya ssetuju dengan ulasan anda, setelah membaca novel tere liye saya juga ingn menemukan sekolah seperti akademi gajah. Seharusnya sekolah tak hanya berpacu tentang materi tetapi aplikasi dari itulah yang dibutuhkan dalam masyarakat.

    BalasHapus
  2. haha saya juga terbawa cerita untuk mencari akademi gajah di internet dan ternyata tak ada >.<

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, hehehe, setelah membaca Zas dan Qon saya jadi nge-search akademi gajah, eh, masuknya ke blog ini, hehehe... Saya juga nge-search lembah bukhara dan suku penguasa angin

      Hapus
    2. iya, kita bertiga sdh terpengaruh cerita-cerita Tere Liye :)

      Hapus
    3. hahaha... saya juga jadi nge-search akademi gajah jadinya nyambung ke blog ini juga....

      iya betul sekali kata mbak we ummung, sekolah seperti akademi gajah yang profesional, tapi zaman sekarang ini juga sudah banyak sekolah-sekolah yang menyenangkan dan menjurus pada hobby masing-masing seperti sekolah aalam contohnya, metode pembelajaran yang padat tetapi ditelaah melalui praktek sehingga kondisi belajar tidak jenuh

      Hapus
  3. hehehe, kok kejadiannya sma kya ak..

    BalasHapus
  4. novelnya selalu menginspirasii

    BalasHapus
  5. ternyata, rata2 setelah membaca ttg akademi gajah... kita juga tergelitik hatinya ingin mencarinya..
    saya juga sangat setuju dg sistem pendidikan disekolah itu... ayo kita ciptakan pola pikir yg seperti itu jika mmg tak bisa membuat sekolah Akademi Gajah itu :)

    BalasHapus
  6. hahahahahaaa,,,,,,
    keisengan saya mencari akademi gajah brujung di blog ini,,,

    BalasHapus
  7. hahaa, iseng iseng juga nyari. yang ketemu malah ulasan anda yang keren (y)

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih atas kunjungannya, walaupun cuma iseng2... hehehe.

      Hapus
  8. Hehehe saya juga iseng nyari akademi gajah n dapat kan blog ini

    BalasHapus
  9. Sepertinya saya salah satu makhluk milenial yang tertarik dengan akademi gajah, salam dari 2020:)

    BalasHapus
  10. Saya yg bru ngesearch akademi gajah di thn 2021:)

    BalasHapus
  11. aku juga tadi iseng-iseng mengetik Akademi Gajah karena kepikiran novel ini, eh ketemu blognya kakak. Dan, uwaaah, seneng setelah tahu yang tulis ini adalah orang Makassar. Hehe

    BalasHapus