Kamis, 22 Maret 2012

Senyum itu... :)

Saya senyum-senyum melihat kebahagiaan anak-anak itu. Tanpa sengaja saya menoleh ke arah mereka. Ada sekelompok siswi yang terlihat saling berlarian selayaknya melakukan perlombaan lari, mereka berlari dengan riangnya sambil tertawa-tawa, entah apa yang mereka tertawai. Yang jelasnya kebahagiaan itu terpancar sangat di wajah-wajah polos mereka. Ada pula sekelompok siswi yang duduk melingkar sambil bermain dengan beberapa biji batu kerikil. Senyum yang tulus, gigi-gigi yang menyembul dari balik bibir mereka, suara yang nyaring, teriakan-teriakan mereka, ah… mereka bahagia sekali pikir saya. Hati saya membenak ada-ada saja yang mereka lakukan untuk bahagia, untuk tertawa riang bersama teman-teman mereka. Semuanya terlihat sederhana oleh mereka, sesederhana mereka menghadapi, melewati dan menghabiskan masa remaja mereka.

Ku ingin menjalani hidup seperti mereka, tertawa saat ingin tertawa, menangis saat ingin menangis, marah saat ingin marah. Semuanya penuh dengan kejujuran, tak ada yang di sembunyikan.Bagaikan anak kecil yang minta dibelikan permen, jika dibelikan, mereka tersenyum, jika tidak, mereka merajuk. Kalau dibujuk, mereka bersabar dan bisa kembali tersenyum. Maka tersenyumlah dengan tulus, maka kita akan bahagia...


Minggu, 04 Maret 2012

Mengenang PerjalananKu di Pulau Borneo (Part Two)

Menjadi guru di daerah pedalaman Kalimantan (Kab.Nunukan) menjadi pengalaman tersendiri buatku. Banyak hal baru yang mesti kupelajari,  budaya atau kebiasaan  masyarakat Kalimantan yang mayoritas penduduknya Dayak dan Tidung. Dalam pikiranku, sebelum saya sampai ketempat ini, saya akan menemukan banyak orang Dayak yang bertelinga panjang seperti yang pernah saya lihat di TV. Eh, ternyata tak satu pun yang saya temukan. Katanya yang bertelinga panjang itu bukan disini dan katanya lagi suku Dayak tuh juga banyak macamnya. Saya hanya bisa ber-ooooo panjang.

Di daerah ini masih kental dengan bau-bau mistis, ada istilah baru dalam kamus kata-kata saya “Kepohonan”, apakah artinya tertimpa pohon atau  ketelan pohon, hehehe.. Tentu saja bukan itu. Menurut kepercayaan masyarakat disini, jika kita punya keinginan, entah itu ingin makan sesuatu, minum sesuatu, atau pingin beli sesuatu, kalau hal itu tidak terpenuhi  maka tunggu saja dalam beberapa waktu akan ada akibat buruk yang akan menimpa orang tersebut. Jatuhkah, tersenggolkah, keserempet motorkah, dll. Apalagi katanya kalau yang kita inginkan tuh minum kopi atau nasi goreng. Kemungkinan terkena musibah tuh, bisa lebih parah. Ah ada-ada saja pikirku. Tapi hampir mayoritas masyarakat disini sangat percaya, bukan hanya penduduk aslinya tapi penduduk pendatang juga sudah ikut-ikutan percaya akan hal itu. Ada tetangga yang cerita ke saya, karena beliau baru datang dari Jawa, ketika itu ia sedang ngidam anak pertama, tahu sendiri kan orang hamil tuh banyak maunya, mau ini itu. Karena ada istilah “Kepohonan”, makanya temannya rela-rela mencarikan apa yang ia mau. Katanya “takut kepohonan”. Tetangga tadi senyum-senyum sendiri sambil membenak “Enak dong kalau begini terus, kalau kita pengin makan apa-apa, dicarikan… hehehe”. Suaminya jadinya gak perlu repot-repot.

Senin, 27 Februari 2012

Rindu

Persaudaraan itu seutuhnya tentang rindu
Yang membuat selalu ingin bertemu
Membuat terasa rugi jika tak berbagi
Ini adalah tentang "hati" yang terikat
Tentang "doa" yang saling bertaut
Dia adalah ikhlas yang menjelma
Dia terasa rumit tuk diungkap
Namun, nyata dalam kata sederhana
Dia dalam tuk diselami
Karena dia adalah Iman yang berupa makna
Semoga Allah senantiasa
Mengikat hati-hati kita dalam balutan ukhuwah

Kamis, 09 Februari 2012

Air Mata Kehidupan

“Wahai Rasulullah, siapa orang yang paling berhak bagi aku untuk berlaku bajik kepadanya?” 
Nabi menjawab, “Ibumu”. Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?” 
Nabi menjawab, “Ibumu”. Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?” 
Nabi menjawab, “Ibumu”. Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?” 
Nabi menjawab, “Ayahmu”. (HR. Bukhari)
Suatu ketika, ada seorang anak lelaki yang bertanya kepada ibunya. “Ibu,mengapa ibu menangis ?”. Ibunya menjawab, “Sebab aku wanita.” Saya tidak mengerti,” kata si anak lagi. Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. “Nak, kamu memang tidak akan mengerti……”
Kemudian, anak itu bertanya kepada ayahnya. “Ayah, mengapa ibu menangis ?”
Sang ayah menjawab, “Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan, kadang-kadang tanpa sebab musabab dengan mudahnya air mata mereka keluar, Yah begitulah wanita, nak." Hanya itu jawaban yang dapat diberikan oleh ayahnya.

Rabu, 08 Februari 2012

Mengenang PerjalananKu di Pulau Borneo (Part One)

Hari ini tepat  3 tahun 1 pekan saya berada di t4 dimana tdk pernah terlintas di benakku bahwa sy akan berada disini. Nama desanya pun baru kutau pada saat pengumuman lulus. Perasaanku pada saat mengetahui bahwa sy lulus dit4 yg kurang kuharapkan menjadi campur aduk. Sempat terlintas dibenakku untuk tidak mendaftar ulang,. Tapi apa boleh buat demi keluarga, ayah, bunda, kakak, adik.. dengan berat hati kuterima juga dengan harapan ada kesempatan untuk pindah.
Pada hari kamis, akhirnya sy berdua dg teman brangkat juga ke nunukan dengan diiringi isak tangis bunda dan tentu saja sy sendiri, berat rasanya meninggalkan kota yg penuh dg kenangan i2. Akhirnya dengan penerbangan dari jam 09.00-16.00 tiba juga di tarakan, nginap dirumah keluarga. Esoknya baru terbang selama 15 menit  menuju nunukan. Setibanya di nunukan, hari itu juga mengurus semua kelengkapan berkas.