Rabu, 06 Juni 2012

Bercerita Yuk..

4 dari 7 novel tere liye yang sudah saya baca, diperankan oleh tokoh utama yang pandai dan suka bercerita, seolah-olah mengajak para pembaca novelnya untuk tidak melupakan proses "bercerita" kepada anak-anak kita. Novel “Ayahku Bukan Pembohong”, “Sunset Bersama Rosie, “Moga Bunda Disayang Allah” dan “Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin”. Keempat novel ini menggambarkan bagaimana seorang Ayah Dam, Paman Tegar, Kak Karang, dan Om Danar yang mendidik anak/adik asuh mereka dengan berbagai cerita. Baik berupa cerita khayalan maupun yang sungguh-sungguh pernah terjadi di kehidupan pencerita. Kepribadian tangguh, tegar, pantang menyerah, dan rendah hati terbentuk secara perlahan tapi pasti sebagai akibat dari cerita-cerita. 

Ayah Dam berhasil menginspirasi Dam menjadi seorang Arsitek handal, yang memiliki keahlian di bidang lain. Istri Dam pun ikut-ikutan terinspirasi membuat kebun gantung dari sulu-sulur bambu. Ibu Dam seorang “artis tercantik” di zamannya, berhasil bangkit dari keterpurukan yang menderanya akibat sebuah penyakit dan dikucilkan oleh sesama artis. Ia akhirnya berhasil melawan penyakitnya tanpa pengobatan selama 20 tahun, padahal sudah divonis hanya bisa bertahan selama … tahun. Ini akibat dari sebuah cerita

Senin, 30 April 2012

Tonggeret "keRiang Gembira"


Malam gelap di bumi Kalimantan ini, saya terusik dengan keributan binatang yang berkerumun di lampu penerangan, baru kali ini saya melihat dan mendengarnya. Tanya punya tanya, ternyata binatang ini bernama “Keriang”, saya pun menamakannya “Keriang Gembira”, betapa tidak, jika tiap malam menjelang, keriang ini mengeluarkan suara yang nyaring ibarat penyanyi seriosa yang lagi tampil. Kadang kalau lagi iseng, jika lampu di matikan, tiba-tiba saja keriang ini jatuh dan berhenti bernyanyi riang, inilah cara saya kalau ingin mengeluarkannya dari kamar. Awalnya saya takut-takut memegangnya, tapi lama kelamaan sudah biasa dan karena binatang ini tidak menggigit.

Setelah googling di internet, ternyata keriang ini di kenal di daerah lain dengan sebutan tonggeret. Keriang atau Tonggeret adalah sebutan untuk segala jenis serangga anggota sub ordo Cicadomorpha, ordo Hemiptera. Serangga ini dikenal dari banyak anggotanya yang mengeluarkan suara nyaring dari pepohonan dan berlangsung lama. Selain tonggeret, nama lain juga dikenal, biasanya dikaitkan dengan pola suara yang dihasilkan. Orang Sunda menyebutnya cengreret, orang Jawa menyebutnya garengpung atau uir-uir, tergantung suara yang dikeluarkan. Di daerah Sulawesi Selatan, saya tidak pernah menemukan binatang ini, walaupun di kampung (Barru).

Rabu, 18 April 2012

Akademi Gajah

Sementara membaca novel Tere Liye "Ayahku Bukan Pembohong", iseng saya mengetikkan "Akademi Gajah" di search engine Google, hehehe.. ternyata emang g' ada. Saya tertarik dengan sekolah ini, terlepas dari fiksi atau non fiksi. sekolah ini menggambarkan sekolah yang penuh dengan petualangan, seklolah ini mendidik siswanya menjadi bertanggung jawab dengan apa yang dipilihnya. Buktinya "Akademi gajah" tidak memaksa siswanya mengambil mata pelajaran paket seperti sekolah-sekolah pada umumnya di Indonesia. Minimal mereka mengambil 8 mata pelajaran dengan 4 mata pelajaran yang wajib, sisanya terserah. Mereka juga boleh mengambil lebih dari 8 mata pelajaran selagi mereka bisa.

Di "Akademi Gajah" ini ada kelas memanah, kelas yang di ambil oleh Dam dan Retro, yang sampai 1 bulan sebelum ujian akhir kelulusan tidak terpilih sebagai Tim Elit Pemanah sekolahnya. Sehingga demi rasa penasaran yang menggebu-gebu, mereka rela berbohong kepada penjaga pintu sekolah bahwa mereka mendapatkan surat izin ikut berburu babi di hutan perkampungan dekat sekolah mereka. Betul-betul pengalaman yang tak terlupakan bagi kedua anak ini yang kalau latihan memanah tidak pernah mengenai sasaran dengan tepat.

Minggu, 15 April 2012

skul

Tentu masih ingat lagunya almarhum Crisye, kalau tidak salah ingat, beberapa liriknya seperti ini (yang tau lagunya, g’ usah protes, hehehe…)

Sungguh aneh tapi nyata Takkan terlupa
Kisah kasih di sekolah Dengan si dia
Tiada masa paling indah, Masa-masa di sekolah
Tiada kisah paling indah, Kisah kasih di sekolah
Masa-masa paling indah, Kisah kasih di sekolah 

Saya salah satu orang yang setuju dengan lirik lagu ini. Masa-masa indah, bahagia, penuh kenangan lucu, menggemaskan, haru, pengalaman-pengalaman seru, semuanya bercampur jadi satu di sekolah terutama di SMA. Itulah yang di rasakan ade’-ade’ku yang saya bina selama di sma. Hah.. tak terasa saya telah membimbing mereka hampir tiga tahun dan sebentar lagi akan menempuh ujian akhir nasional. Walaupun sebagai guru, saya tak memanggil mereka “Nak” seperti kebanyakan guru lain tapi “ade’ atau de’, (secara, umur kami kan tak terpaut jauh.. Hehehe.. Yah masih hampir sepantaran lah..) Kadang mereka iseng menjawab “ iya kak..” yang membuat seisi kelas jadi tertawa melihat raut wajah saya berubah pura-pura marah. Ada-ada saja tingkah mereka yang lucu, kadang menggemaskan, tapi kadang juga bikin bete’ dan membuat manyun.  

Sabtu, 14 April 2012

Catatan kecil Tere Liye

Bahwa hidup harus menerima.. penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti.. pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami.. pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, dan pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan
Tak ada yang perlu disesali. Tak ada yang perlu ditakuti. Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya. Biarkan angin merengkuhnya, membawa pergi entah kemana. Dan kami akan mengerti, kami akan memahami.. dan kami akan menerima. “Daun yang jatuh tak pernah membenci angin” (Tere-Liye)